Pada sebagian besar keluarga, seorang kepala keluarga (suami) adalah orang yang bertanggung jawab atas kondisi financial keluarganya. Meskipun, ada beberapa keluarga yang keduanya (suami dan istri) bekerja, namun tanggung jawab utama tetaplah berada pada suami. Karena itulah, banyak keluarga yang mulai merasa kesulitan keuangan ketika tiba-tiba terjadi sebuah musibah yang menimpa suami, hingga tidak bisa lagi mencari nafkah. Akan tetapi, kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi jiwa membuat masalah ini mulai dapat teratasi. Menjadi peserta asuransi jiwa, artinya menyerahkan tanggung jawab financial kepada perusahaan asuransi saat terjadi sebuah risiko atau musibah pada peserta asuransi.

Saat ini sudah banyak sekali cara yang bisa kita gunakan untuk mendaftar menjadi peserta asuransi, begitu pula dengan pilihan total nilai pertanggungan yang dapat diperoleh. Peserta asuransi bisa memilih asuransi dengan nilai pertanggungan yang menurutnya paling sesuai dengan kondisinya saat ini. Ada beberapa hal yang bisa dijadikan dasar oleh peserta, dalam menentukan nilai pertanggungan asuransi jiwa yang sesuai kebutuhannya:

Menentukan Nilai Pertanggungan Asuransi Jiwa

  • Jumlah tanggungan

Berapa anggota yang akan dibiayai dari hasil uang pertanggungan (UP) menjadi faktor penting dalam menentukan UP. Semakin banyak jumlah yang ditanggung (misal istri, 2 anak, orang tua, dan sebagainya) maka UP yang dibutuhkan akan semakin tinggi nilainya.

  • Pengalaman kerja istri

Jika istri hanya berperan sebagai ibu rumah tangga tanpa pernah memiliki pengalaman kerja, UP  yang dibutuhkan akan lebih tinggi nilainya bila dibandingkan dengan istri yang juga bekerja atau setidaknya pernah bekerja. Jika istri bekerja, maka keluarga tersebut akan tetap memiliki penghasilan saat terjadi musibah pada pencari nafkah utama. Jika istri memiliki pengalaman bekerja, maka akan lebih mudah mencari kerja dibandingkan dengan yang belum berpengalaman sama sekali. Sehingga UP tersebut akan digunakan untuk biaya hidup selama istri belum mendapat pekerjaan, dan dapat menjadi tabungan saat sudah mendapat pekerjaan.

  • Usia yang ditanggung

Jika sebuah keluarga memiliki seorang anak yang masih berada pada usia awal sekolah (misalnya 5 tahun), tentunya UP yang dibutuhkan akan semakin besar. Misalnya saja, musibah terjadi saat anak berusia 7 tahun, artinya masih banyak biaya yang dibutuhkan sang anak untuk keperluan hidup dan pendidikannya hingga mencapai usia dewasa (mampu mencari nafkan sendiri).

Sebagian besar masyarakat, pastilah ingin mendapat UP dalam jumlah tinggi. Namun, tetaplah untuk menyesuaikan dengan kemampuan kita membayar (penghasilan yang diterima). Jangan lupa juga untuk memastikan bahwa Anda tahu akan proses klaim asuransi, sehingga tidak akan complain ketika klaim asuransi yang diajukan ditolak oleh perusahaan asuransi. (Yv)